Pesantren Center dan Tantangan Islam Nusantara

Pesantren Center, sebagai lembaga kerja sama antara IAI Al-Qolam Malang dengan RMI Kabupaten Malang, menggelar seminar Islam Nusantara (24-01-2019) bertema: “Revitalisasi Islam Nusantara dalam Rangka Membangun Kemanusiaan dan Peradaban Mulia.” Narasumber dalam diskusi ini adalah Gus Abu Yazid Albusthomi (Ketua RMI Kabupaten Malang).

Pada kesempatan diskusi itu, Gus Yazid—sapaan akrab Gus Abu Yazid Albusthomi—mengetengahkan pentingnya Pesantren Center dalam lingkup yang luas. Oleh karenanya, Gus Yazid mengatakan bahwa dia tidak ingin melokalkan Pesantren Center, tapi juga mengglobalkannya.

Keinginannya ini berkorelasi kuat dengan situasi keberagamaan dan keberisalaman dalam konteks global. Sudah diketahui bersama bahwa Islam sebagai rahmatan lil alamin sedang diuji akhir-akhir ini. Di belahan dunia lain, sedang terjadi berbagai aksi kekerasan atas nama Islam. Perang dan pelecehan hak asasi manusia terjadi di mana-mana, parahnya semua itu dilakukan dengan dalih dan alasan karena perintah agama Islam. Dengan demikian, muncul keraguan dan kesangsian mengenai apakah Islam ini agama kekerasan ataukah agama kasih sebagaimana digembar-gemborkan oleh para pemeluknya.

Di Indonesia, gejala semacam ini mulai terasa benih-benihnya. Berbagai kecurangan dan keculasan yang diatasnakan Islam mulai bermunculan dengan berbagai bentuk dan rupa. Hal ini bahkan dilakukan dengan sangat rapi dan terorganisir oleh sebagian kelompok yang hendak mengambil keuntungan di air keruh. Bukti betapa terorganisirnya kelompok ini adalah kemampuan mereka memanfaatkan media sosial untuk mengampanyekan ide-ide mereka ke kalangan anak muda milenial. Tidak bisa dimungkiri, ide-ide mereka yang disebarkan melalui media sosial selalu viral dan disambut secara harfiah oleh kaum milenial.

Pesantren rupa-rupanya menyadari gejala ini dan mengambil respons yang tepat. Akhir-akhir ini, orang-orang pesantren menyerukan pentingnya keberagamaan yang ramah dan toleran. Di pengajian-pengajian umum dan di berbagai kajian keislaman di media sosial, orang-orang pesantren mulai bergeliat dan menampakkan tajinya sebagai garda terdepan Islam rahmatan lil alamin.

Gus Yazid optimis bahwa respons orang-orang pesantren ini akan semakin besar dan semakin massif di masa-masa mendatang. Hal ini karena, menurut pengamatannya, sumber daya manusia yang dimiliki pesantren sudah sangat luar biasa. Kaum muda pesantren akhir-akhir ini bergelora, menyebarluaskan gagasan-gagasan keislamannya ke berbagai kalangan, sembari membendung arus keislaman yang kaku dan sarat kekerasan. SDM muda ini bersinar dengan sangat cemerlang, sehingga Gus Yazid percaya bahwa pesantren sudah siap dipimpin oleh generasi muda ini. Masa depan pesantren dan NU tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Oleh karena itu, demikian Gus Yazid menutup diskusinya, hadirnya Pesantren Center ini berkait kelindan dengan situasi yang kita lihat tadi. Pesantren Center adalah salah satu jawaban dari problematika keumatan yang selama ini butuh akan nilai-nilai pesantren yang di masa-masa sebelumnya tidak tersampaikan dengan maksimal terhadap umat secara umum. Sudah saatnya kita menjawab kerinduan umat akan nilai pesantren itu. Dan itu bisa kita lakukan dengan Pesantren Center.[]

Mari berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *