Marketing Pesantren; Pengembangan Pesantren dari Sudut Pandang Ekonomi

Konon, ada satu rumus yang saat ini disepakati oleh semua orang: persaingan. Apapun – saat ini – tergenang dalam persaingan. Persaingan menciptakan perlombaan. Dan perlombaan mengharuskan inovasi. Pendidikan tak luput dari persaingan itu. Pun dengan pendidikan pesantren. Maka pesantren harus mengikuti arus perlombaan itu dengan menghadirkan inovasi, baik dalam pengelolaan maupun dalam permak produk. Anggap saja pesantren adalah lembaga korporasi.

Pandangan bahwa lembaga pendidikan diminta banyak mencatut hal ihwal korporasi memang tidak asing. Banyak kalangan mulai mengamini pandangan itu lalu berbenah. Dan muncullah perkawinan paradigma antara pendidikan (yang non profit) dan korporasi (tujuannya memang keuntungan). Kawin silang itu tak lantas menarik-paksa lembaga pendidikan menjadi profit oriented. Akan tetapi  banyak hal dapat disadur, ditiru dan dimodifikasi dari paradigma lembaga korporasi. Hal itu karena lembaga korporasi dapat dikatakan lebih awal hidup dalam dunia persaingan. Anggap saja begitu.

Salah satu yang dapat diambil adalah strategi pemasaran. Ini mendudukkan pesantren sebagai produsen produk yang – tentu – diharuskan bermain cantik dalam melakukan sentuhan-sentuhan pada konsumen. Bukan untuk mengkapitalisasi konsumen, karena sekali lagi poin penting pesantren bukanlah profit. Tapi untuk memasarkan dan mengkampanyekan kebenaran-kebenaran dalam ajaran pesantren. Di situlah ruang besar perbedaan antara korposari dan lembaga pendidikan. Pada pesantren, santri adalah agen kebenaran, masyarakat adalah konsumen, dan kebenaran adalah produknya. Atau santri adalah produk, masyarakat dan wali santri adalah konsumen, dan pesantren adalah produsennya.

Sedikit berbicara pemasaran. Manusia senantiasa memiliki kebutuhan. Dan proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang menjadi konsep pemasaran. Mulai dari pemenuhan produk (product), penetapan harga (price), pengiriman barang (place), dan mempromosikan barang (promotion). Seseorang yang bekerja di bidang marketing disebut marketer. Marketer ini sebaiknya memiliki pengetahuan dalam konsep dan prinsip marketing agar kegiatan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia terutama pihak konsumen yang dituju.

Unsur pemasaran adalah empat komponen yang terdiri dari 4P yaitu: 1) product (produk), 2) Price (harga), 3) Place (tempat, termasuk juga distribusi), dan 4) Promotion (promosi). Unsur ini dapat dikembangkan lagi menjadi 7P dengan penambahan 5) People (Orang), 6) Physical Evidence (Bukti Fisik), dan 7) Process (Proses).

  1. Product (Produk)

Pada korporasi, produk bisa berupa apa saja, baik berwujud fisik maupun bersifat digital. Produk juga termasuk jasa maupun layanan yang dapat ditawarkan. Sedang dalam pesantren, produk bisa berupa produk fisik atau produk non fisik. Produk fisik terwujud pada santri lulusan atau karya intelektual. Sedang produk non fisik terwujud berupa ide atau ajaran pesantren yang diupayakan menyebar pada lapisan masyarakat.

  1. Price (Harga)

Untuk mendapatkan suatu barang atau jasa, konsumen perlu mengeluarkan sejumlah biaya. Dan biaya inilah yang dimaksud dengan harga. Maka pada pesantren, price artinya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan produk fisik, yakni biaya mondok di pesantren setempat.

  1. Place (Tempat)

Pada korporasi, place berarti tempat penjualan atau proses distribusi. Lokasi perusahaan dan distribusi barang atau jasa adalah suatu komponen yang juga banyak berpengaruh dalam pemasaran. Maka pada pesantren, place berarti lokasi pesantren dan aksesibilitas pesantren. Lokasi pesantren dan mudahnya pesantren tersebut diakses adalah bagian dari komponen ini.

  1. Promotion (Promosi)

Promosi yang dimaksud adalah sebuah upaya persuasi (bujukan atau dorongan) untuk mengajak para konsumen maupun calon konsumen untuk membeli (atau menggunakan) produk maupun jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Jika dikaitkan dengan pesantren, promotion adalah segala upaya publikasi dan informasi pesantren kepada khalayak ramai. Upaya ini dapat dilakukan dengan berbagai macam hal yang terus berkembang seiring perkembangan teknologi.

  1. People (SDM)

Faktor sumber daya manusia sangat menentukan maju tidaknya sebuah perusahaan. Tak dapat kita pungkiri bahwa faktor ini berperan penting dalam membuat suatu kemajuan atau bahkan kemunduran dari suatu perusahaan. Inilah mengapa berbagai perusahaan berlomba-lomba untuk mencari kandidat pekerja terbaik, mereka bahkan rela membayar lebih untuk menyewa pihak pencari kerja independen yang sudah ahli dalam mencarikan kandidat pekerja bagi perusahaan.

Pada konteks pendidikan pesantren, SDM juga tak kalah penting sebagai bagian dari komponen marketting. Proses publikasi dan informasi akan sangat tergantung pada sumber daya manusia yang mengelola di dalamnya. Upaya meningkatkan mutu people pesantren, baik dalam sisi pengelolaan (manajemen pendidikan) maupun sisi marketting dapat dilakukan dengan banyak cara, misalnya pelatihan dan kaderisasi.

  1. Physical Evidence (Bukti Fisik)

Unsur berikutnya adalah physical evidence (bukti fisik) atau packaging (pengemasan). Umumnya, orang membentuk kesan pertama mereka tentang suatu produk dalam 30 detik pertama melihatnya atau dengan melihat beberapa elemen dari perusahaan. Perbaikan kecil dalam kemasan atau tampilan eksternal dari produk maupun layanan seringkali dapat menyebabkan reaksi yang sama sekali berbeda dari pelanggan. Pun demikian dengan pesantren, kemasan fisik pesantren dan santri (produk) adalah bagian dari komponen ini. Selain itu, kemasan non fisik dari pesantren dan santri seperti prestasi dan plot unggulan yang dishow-up juga dapat mempengaruhi kesan konsumen.

  1.  Process (Proses)

Proses yang dimaksud adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang saling terkait yang kemudian bersama-sama mengubah bahan menjadi produk. Pada perusahaan produsen, pelaksanaan ini dapat dilaksanakan oleh manusia atau mesin dengan menggunakan berbagai sumber daya yang ada. Poin penting dari komponen ini adalah kesabaran, konsistensi, dan kontinuitas dalam pengelolaan dan pengembangan.

Dan dalam konteks pesantren, proses dapat diterjemah dalam bentuk grand design kurikulum. Hal itu dapat diupayakan dengan menentukan character building dan langkah-langkahnya pada kurikulum lalu dipublikasi dan menjadi poin branding pesantren tersebut.

Mari berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *