Ki Ageng Gribig

  1. Tentang Ki Ageng Gribig
  • Sejarah Singkat tentang Profil Ki Ageng Gribig

Menurut masyarakat Malang setempat, Ki Ageng Gribig  merupakan adik kandung dari Sunan Giri salah seorang wali songo yang dimakamkan di Kota Gresik. Adapun menurut sumber lain, Ki Ageng Gribig merupakan cicit dari Raja Majapahit, Brawijaya. Ayahnya yang bernama Pangeran Kedawung, salah seorang keturunan Lembu Niroto, pemilik panembahan Bromo yang juga putra ketiga dari Raja Brawijaya XI pada tahun 1466-1478.  Konon, Ki Ageng Gribig ini adalah salah satu murid kesayangan dari Sunan Kalijaga.

Pemilik nama asli Syekh Abdurrohman (Syekh Maghribi) ini sangat terkenal dan disegani oleh masyarakat di wilayah Malang, disekitar tahun 1650-an. Ketika sudah meninggal duniapun, makamnya begitu dihormati dan dikeramatkan, termasuk oleh para penguasa waktu itu.[1]

Ki Ageng Gribig ini  yang merupakan penyebar agama islam pertama di Malang Raya, sangat dipercaya sebagai pendiri atau cikal bakal kota Malang. Konon, beliau sangat suka berkelana ke tempat-tempat jauh untuk menimba ilmu dan memperkuat iman. Pada suatu ketika, sampailah Ki Ageng Gribig di sebuah tempat berupa hutan yang sangat lebat. Karena merasa cocok dengan tempat tersebut, maka Ki Ageng Gribig membabatnya dan menjadikan tempat itu sebagai pemukiman. Sejak itulah tempat tersebut dihuni orang dan dikenal dengan nama “Malang”. Nama “Malang” sendiri diberikan oleh Ki Ageng Gribig berdasarkan kenyataan adanya Gunung Buring dan deretan pegunungan yang melintang di kiri dan kanannya.[2]

 

  • Nasab Keturunan Ki Ageng Gribig

Menurut narasumber Bapak Ahmad Bahrowi, tidak ada satu pun yang mengetahui jelas keturunan dari Ki Ageng Gribig. Banyak orang yang mendatangi ke area pemakaman untuk menemui juru kunci dan mengaku-ngaku sebagai keturunan dari Ki Ageng Gribig yang tak jelas asal muasal silsilah pengaku tersebut.[3]

Dari penjelasan tersebut, dijelaskan bahwa Ki Ageng Gribig ini masih belum ditemukan kejelasan keturunan nasabnya. Namun, ada yang mengatakan, bahwasannya di Klaten, Jawa Tengah ada makam Ki Ageng Gribig II, yang mana masyarakat disana sudah mempercayai bahwa Ki Ageng Gribig II ini merupakan putra dari Ki Ageng Gribig di Malang[4].

Dan, menurut buku Muhammadiyyah setengah Abad 1912-1962 terbitan Departemen Penerangan RI, disebutkan bahwa Ki Ageng Gribik masih keturunan dari Sunan Maulana Malik Ibrahim yang berputra Maulana Ishaq, yang berputra Ainul Yaqin (Sunan Giri), yang berputra Maulana Muhammad Fadhillah (Sunan Prapen) yang berputra Maulana Sulaiman Alias Ki Ageng Gribik. Jadi jika ditarik kesimpulan, KH Achmad Dahlan yang bernama lahir Muhammad Darwis pendiri Muhamadiyyah itu masih keturunannya Ki Ageng Gribik (versi buku setengah abad Muhamadiyyah).

Menurut masyarakat Malang setempat, Ki Ageng Gribig  merupakan adik kandung dari Sunan Giri salah seorang wali songo yang dimakamkan di Kota Gresik. Adapun menurut sumber lain, Ki Ageng Gribik merupakan cicit dari Raja Majapahit, Brawijaya. Ayahnya bernama Pangeran Kedawung, salah seorang keturunan Lembu Niroto, pemilik panembahan Bromo yang juga putra ketiga dari Raja Brawijaya XI pada tahun 1466-1478.  Konon, Ki Ageng Gribig ini adalah salah satu murid kesayangan Sunan Kalijaga.

Pemilik nama asli Syekh Abdurrohman (Syekh Maghribi) ini sangat terkenal dan dihormati di wilayah Malang, disekitar tahun 1650-an. Ketika sudah meninggal duniapun, makamnya begitu dihormati dan dikeramatkan, termasuk oleh para penguasa waktu itu.[5]

 

  • Sanad keilmuan Ki Ageng Gribig

Tidak banyak yang mengetahui tentang tempat-tempat yang pernah Ki Ageng Gribig pernah menuntut ilmu disana. Menurut sumber yang didapat, Ki Ageng Gribig ini pernah berguru di Kerajaan Mentaraman Islam yang mana menurut sumber merupakan tempat pertama Ki Ageng Gribig untuk menimba ilmu.

Setelah ilmu mencukupi, Ki Ageng Gribig diperintahkan untuk melanjutkan tholabul ilmi-nya kepada Sunan Gunung Jati. Tak lama menyerap ilmu disana, Ki Ageng Gribig melanjutkannya ke Sunan Kalijaga.[6]

 

  1. Asal-usul Kedatangan Ki Ageng Gribig ke Malang

 

  • Status Ki Ageng Gribig di Malang

Ulama yang berasal dari Klaten, Jawa Timur ini, mengawali langkah kakinya di Kota Malang sekitar awal tahun 1600-an. Menjadi sepasang pendatang yang di yakini sebagai cikal bakal dari Kota Malang, dan juga dipercaya oleh masyarakat Gribig. Dengan keyakinan hatinya Ki Ageng Gribig ini membabat hutan luas untuk dijadikan sebagai pemukiman yang akan dijadikan tempat untuk menyebarluaskan agama Islam.

 

  • Tujuan Datangnya Ki Ageng Gribig ke Malang

Berdasarkan informasi, datangnya Ki Ageng Gribig ke Malang itu ada kaitannya dengan adanya keberadaan dua pintu Komplek Makam Ki Ageng Gribig yang mana telah diakui bahwa ada dua versi cerita mengenai asal usul Ki Ageng Gribig bisa sampai di Kota Malang.

Versi pertama yaitu dari adanya program Mataramisasi dan versi yang kedua dari adanya program ekspansi[7] Blambangan Kulon. Walaupun tidak didapatkan data secara tertulias atau dokumen utuh, kedua versi ini masih di pegang kebenarannya oleh masyarakat setempat, serta kedua versi ini juga diperkuat dengan urutan tahun, yakni pada tahun 1625 ketika Hanyokro Kusuma menjadi rajanya.

Menurut versi Mataramisasi atau ekspansi Mataram untuk perluasan daerah kekuasaan, Ki Ageng Gribig adalah seorang utusan dari kerajaan Mataram untuk memperluas wilayah kekuasaan dengan dalih pentebar agama Islam.

Seperti yang diketahui secara mendasar, semua pemimpin Mataram mulai dari Penewu sampai ratu berfungsi sebagai orang yang dituakan, atau sebagai panutan bagi masyarakat. Semua pejabat kerajaan diwajibkan memiliki pemahaman yang luas mengenai agama Islam, sehingga dengan sendirinya semua pejabat Mataram mengemban tugas sebagai ulama atau dikenal sebagai sayyidin panoto agomo.[8] Begitu juga dengan Ki Ageng Gribig, jika dilihat sesuai dengan versi program Mataramisasi Ki Ageng Gribig adalah satu tokoh penyebar pertama agama Islam yang ada di wilayah Malang, Jawa Timur.

Sedangkan menurut versi kedua bahwa Ki Ageng Gribig adalah utusan dari Blambangan Kulon yang pada saat itu dipimpin oleh Aryo Menak Koncar. Tujuan Ki Ageng Gribig ke kota Malang juga tidak jauh berbeda dengan versi yang pertama. Konon, Ki Ageng Gribig ini adalah utusan dari Blambangan Kulon untuk mengadakan ekspansi Blambangan atau perluasan daerah kekuasaan kerajaan Blambangan. Jika dilihat menurut tahun, Blambangan Kulon ini muncul setelah masa jayanya Ratu Triguana Tunggal Dewi, Ratu Kerajaan Majapahit.

Dengan demikian, kesamaan dari dua versi asal usul Ki Ageng Gribig datang ke Kota Malang ialah sama-sama melakukan program perluasan daerah kekuasaan kerajaan.[9]

 

  • Kegiatan Ki Ageng Gribig saat di Malang

Dalam mewujudkan niat mulia dari Ki Ageng Gribig, yaitu menjalankan amanat dari guru yang berasal dari Kerajaan Mentaraman Islam, yakni menyebarluaskan Agama Islam di Malang  Raya yang masyarakatnya masih memeluk Agama Hindu. Beliau mengawali dengan mendatangi sejumlah rumah-rumah masyarakat Malang, serta melakukan pendekatan dengan cara menanyakan apa yang sering dilakukan masyarakat Malang serta menanyakan apa kesenangan masyarakat Malang.

Dari sejumlah rumah masyarakat awam yang di datangi Ki Ageng Gribig ini, salah satu masyarakatnya sedang menderita penyakit.ketika Ki Ageng Gribig menjumpai masyarakat tersebut, sebelum Ki Ageng Gribig ini mencoba dan meminta izin untuk menyembuhkan dari penyakit tersebut, beliau beramah tamah terlebih dahulu terhadap keluarganya. Setelah Ki Ageng Gribig berhasil menyembuhkan, salah satu masyarakatnya menanyakan tentang asal Ki Ageng Gribig dan agama yang di anut. Setelah mendengar penjelasan  sedikit tentang asal muasal dan Agama yang diikuti  Ki Ageng Gribig ini, masyarakat berkeinginan untuk mengikuti Ki Ageng Gribig dengan mengikuti Agama Islam yang dianut oleh Ki Ageng Gribig.

 

  1. Tentang Makam Ki Ageng Gribig

 

  • Keunggulan Makam Ki Ageng Gribig

Terkenal dengan seorang cikal bakal Malang, makam Ki Ageng Gribig ini sangatlah ramai dikunjungi peziarah-peziarah yang tak semuanya beragama Islam. Bahkan peziarah non Islam ini sering menyekar di makam Ki Ageng Gribig ini. Dengan keyakinan yang berbeda-beda, cara penyekarannya pun juga berbeda-beda, tergantung keyakinan yang dianut peziarah yang datang. Mulai dari membawa sesajen, ilmu kejawen, mendukun, membaca yasiin dan tahlil dan lain sebagainya. Itulah sebabnya makam Ki Ageng Gribig ini disebut makam Nasional, makam yang terkenal dengan keberaneka ragaman peziarah-peziarah yang segan berkunjung ke makam Ki Ageng Gribig ini.[10]

 

  • Sejarah dimakamkannya Bupati I, II, dan III beserta kerabat-kerabatnya

Makam yang dikenal dengan penataan batu nisan dan pepohonan yang rapi dan asri ini dikarenakan si perawat atau penjaganya telaten dsn sabar dalam merawatnya. Jalan setapak di dalam makam dibuat dari beton yang kiri-kanannya ditumbuhi pohon-pohon hias yang terawat rapi. Terdapat tiga bangunan besar dan beberapa bangunan kecil di pekuburan itu. Bangunan terbesar terletak di bagian tengah, yakni tempat disemayamkannya Bupati Malang pertama yang bernama R.A.A Notodiningrat, bersama 17 makam para kerabat terdekat dan 8 kerabat jauh yang berada diterasnya.

Bangunan kedua yang agak kecil adalah makam Bupati Malang kedua yaitu R.A.A Notodiningrat II dengan 26 makam kerabat dekat dan 6 kerabat jauh. Diteras bangunan besar itu ada makam Mas Ajoe Aminah, istri dari Raden Probolinggo. Sedangkan bangunan besar ketiga yang terletak di bagian paling belakang ialah makam Ki Ageng Gribig bersama istrinya.

Makam Bupati Malang ketiga tidak berada dalam bangunan besar yang tertutup, tetapi di buatkan bangunan kecil terbuka dan ditutup dengan kelambu. Tertulis jelas di batu nisan yang terbuat dari marmer; R. Toemenggoeng Ario Notodiningrat wafat 8 juli 1898. Makam ini walaupun berada di luar bangunan gedung tetap terawat rapi dan bersih. Nisan dan payungnya ditutup dengan kain berwarna kuning tua.

Di seberang makam Bupati Malang ketiga, terdapat makam Bupati Bondowoso, RTA Notodiningrat yang wafat tengah malam 13 oktober 1934. Sedangkan jauh di depan, didekat jalan masukterdapat makam Bupati Surabaya, R. Soekarso yang menjabat pada tahun 1958-1968. Tertulis jelas di batu nisan terlahir pada 11 desember 1908 dan wafat 7 desember 1986.

Konon, menurut penuturan juru kunci makam Ki Ageng Gribig, awalnya ketika R.A.A Notodiningrat menjadi Bupati Malang, mencoba mencari siapa sebenarnya cikal bakal atau orang yang membabat hutan belantara hingga menjadi Kota Malang. Sang Bupati akhirnya makam Ki Ageng Gribig yang kemudian diyakini sebagai cikal bakal Kota Malang. Dari keyakinan itulah, makam Ki Ageng Gribig dirawat dan dipelihara. Kemudian Bupati Malang pertama R.A.A Notodiningrat berwasiat kepada keluarga dan staf-stafnya untuk memakamkan dirinya didekat makam Ki Ageng Gribig, yang tanah sekitar makam Ki Ageng Gribig ini akan dibeli untuk tempat pemakaman keluarga dan keturunan dari Bupati Malang pertama tersebut.[11]

 

  • Tanah Pemerintah

Makam yang pernah dicari-cari oleh Bupati Malang pertama yang bernama R.A.A Notodiningrat, yaitu makam Ki Ageng Gribig yang awalnya berada di pelosok daerah Kedung Kandang. Sekarang komplek makam Ki Ageng Gribig ini dijadikan sebagai makam keluarga. Rasa terima kasih dari Bupati Malang pertama ini, terucapkan dengan keistiqomahannya mendatangi makam Ki Ageng Gribig untuk menyekar.

Dari keyakinan itulah, makam Ki Ageng Gribig dirawat dan dipelihara. Kemudian Bupati Malang pertama R.A.A Notodiningrat berwasiat kepada keluarga dan staf-stafnya untuk memakamkan dirinya didekat makam Ki Ageng Gribig, yang tanah sekitar + 1 hektar di samping makam Ki Ageng Gribig ini akan dibeli untuk tempat pemakaman keluarga dan keturunan dari Bupati Malang pertama tersebut.

 

 

  1. Kondisi pada Area Komplek Makam Ki Ageng Gribig

 

  • Penjaga Pemakaman

Makam yang dikenal sebagai makam Nasional ini sangatlah perlu untuk dijaga. Dengan keikhlasan hati serta amanat tanggung jawab dilakukan Bapak Ahmad Bahrowi beserta tiga temannya sangatlah patut diteladani kegigihannya.

Rapinya area makam semuanya terlihat indah untuk dipandang. Itu terbukti bahwa Bapak Ahmad Bahrowi beserta temannya bersungguh-sungguh merawat serta menjaga makam Nasional ini.

 

  • Fasilitas Komplek Pemakaman

Komplek makam Ki Ageng Gribig ini, termasuk makam yang sangat terawat bersih dan rapi. Fasilitas yang terdapat di komplek ini, antara lain : 4 kamar mandi, 1 musholla yang berada di sebelah timur makam Ki Ageng Gribig yang mana telah diyakini bahwa disitulah Ki Ageng Gribig berdakwah, warung kecil di sebelah selatan pojok, dan tak jauh dari makam terdapat Masjid Ki Ageng Gribig yang memiliki desain bangunan yang indah.

Rapi dan bersihnya membuat krasan pengunjung untuk menyekar di komplek makam Ki Ageng Gribig ini. Jalan setapak di dalam makam dibuat dari beton yang kiri-kanannya ditumbuhi pohon-pohon hias yang terawar rapi juga membuat terkesan tersendiri bagi pewisata religius dan peziarahnya.

Sebagian kecil fasilitas yang berada di kompleks makm Ki Ageng Gribig ini telah di tanggung oleh penjaga makam, seperti permasalahan pada listrik, kerusakan kabel, serta pembayaran lampu. Sedangkan sebagian besar di tanggung oleh Pemda dengan mengajukan proposal. Pemda memberi bantuan kepada kompleks makam Ki Ageng Gribig ini per tahunnya sebesar 6-8 juta, yang mana dana tersebut dipergunakan untuk pengecatan makam, mempersiapkan Hari Jadi Kota Malang dan lain sebagainya.

 

  • Peninggalan Ki Ageng Gribig

Tak banyak diketahui tentang peninggalan-peninggalan dari Ki Ageng Gribik ini. Menurut sumber yang didapat, sampai saat ini tak ada yang mengetahui tentang peninggalan atau pesan-pesan dari Ki Ageng Gribig. Tetapi menurut narasumber, ada satu benda bersejarah yang sekarang sedang di rapikan lagi, yakni berupa buku yang merupakan silsilah Ki Ageng Gribig.

 

  • Mitos di Kompleks Pemakaman Ki Ageng Gribig

 

Menurut narasumber, mitos- mitos yang terdapat di area makam Ki Ageng Gribig ini benar adanya. Di awali dengan adanya makhluk ghaib yang berada didalamgedung besar makam Bupati Malang pertama, berupa harimau putih dan kuda putih yang 6 tahun akhir ini tidak menampakkan wujudnya lagi. Keluarnya makhluk ghaib itu tidak mudah, bisa keluar karena suasana sunyi, hujan gerimis di tengah malam.[12]

Mitos yang kedua berupa kejadian aneh yang secara logika tidak masuk akal. Jatuhnya pesawat dan burung yang melintas di atas makam Ki Ageng Gribig ini sekitaran tahun 60-70 an yang mana mitos tersebut telah di yakini oleh masyarakat Gribig.

[1] Dikutip dari internet http://warisdjati.blogspot.co.id/2013/04/makam-ki-ageng-gribig-kota-malang.html?m=1

[2] Dikutip dari internet .panduanwisata.id/wisata-religi/menguak-cikal-bakal-kota—malang-di-kompleks-makam-ki-ageng-gribig

[3] Rekaman dengan narasumber Bpk Ahmad Bahrowi, di menit ke-  8:48.

[4] Rekaman dengan narasumber Bpk Ahmad Bahrowi, yang menjelaskan tersebut ialah juru kunci dari makam Ki Ageng Gribik II. Di menit ke-  9:29.

[5] Dikutip dari internet http://warisdjati.blogspot.co.id/2013/04/makam-ki-ageng-gribig-kota-malang.html?m=1

[6] Rekaman dengan narasumber Bpk Ahmad Bahrowi, di menit ke-  53:52.

[7] Perluasan wilayah

[8] Tuan penata agama

[9] Roni rachman et al., Kajian Mitos Masyarakat Terhadap Folklor Ki Ageng Gribig (Malang, Universitas Negeri Malang).

[10] Rekaman dengan narasumber Bpk Ahmad Bahrowi, di menit ke-  17:58.

[11] Rekaman dengan narasumber Bpk Ahmad Bahrowi, di menit 4:02.

[12]Rekaman dengan narasumber Bpk Ahmad Bahrowi, di menit 23:22.

admin Administrator
Mari berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *