ARAB, EROPA DAN ISLAM NUSANTARA

Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni merupakan hasil upaya bersama berbagai peradaban manusia. Mulai dari Mesir kuno hingga, China, Arab dan Eropa.

Dahulu salah satu sumber kemajuan bangsa Eropa adalah karena belajar iptek dari peradaban Arab Islam. Selama kurang lebih 500 tahun, pusat pusat peradaban Eropa menerjahkan buku buku berbahasa Arab.

Orientalis Jerman Zigrid Hunke (1913-1999) menuliskan kesaksianya : ” Tidak ada di sana satu buku pun diantara buku buku yg ada di Eropa pada saat itu, kecuali lembaranya bersumber dari peradaban bangsa Arab”.

Kesaksian Hunke ini menjadi bukti bahwa Iptek Arab Islam menjadi pelopor kebangkitan iptek Eropa pasca jatuhnya Kekhalifahan Bani Umayyah 1 dan 2 di Cordova 1236 M dan jatuhnya Granada 1492 M.

Setelah itu, 500 tahun berikutnya, dunia harus belajar iptek ke Eropa termasuk bangsa Arab.

Akhir abad 19 hingga 21 ini Arab kembali ke jaman jahiliyah. Peperangan demi peperangan berkecamuk. Setidaknya sejak deklarasi Balfaur (1917) sampai perang Arab Israel (1948) dan aneksasi Palestina oleh Israel.

Meski ada perdamaian setelah perjanjian Camp David (1978), tetapi Arab tak sepi dari perang. Afghanistan, Libanon, Irak, Iran, Syiria, Arab, Yaman secara berurutan menjadi ajang konflik.

Tak heran jika sekarang orang lebih percaya kepada Jepang, Korea, China dan India untuk belajar Iptek.

Penyebabnya satu, dunia Arab Islam sudah tidak menjadi rujukan peradaban dunia. Begitu juga rujukan beragama. Para agamawan mulai melirik Indonesia sebagai negara rujukan pengembangan ilmu keislaman dan harmonisasi.

Model Islam yg ramah, toleran, membangun karakter, dan kreatif justru ada di Indonesia. Islam Indonesia yg dijuluki Islam Nusantara ini menjadi top model bagi dunia Islam. Karena itu, keberadaan Islam Nusantara sebagai model rujukan harmonisasi kehidupan beragama perlu ditebar ke seluruh dunia.

Saatnya, kiblat peradaban Islam dunia digeser dari Arab dan Eropa ke Asia. Dan Insya Allah Indonesia menjadi tempat yang tepat untuk tujuan itu.

Wallahu a’lam bi shawab.

Dr.Supriyanto Penulis

Dr. Supriyanto, adalah alumni PP. Al Amnan Kebondalem dan PP. Minhajut Thullab Sumberberas Banyuwangi. Alumni program Doktor Universitas Negeri Malang tahun 2011 ini juga pernah memperoleh Beasiswa di Universitas Queensland Brisbane Australia saat menyelesaikan program doktornya.

Kariernya di NU dimulai dari Ketua ISNU Kab Banyuwangi, MWC Kec Pakisaji, pengurus LPNU Kab Malang dan anggota ISNU Kab Malang.

Pekerjaan sehari hari adalah dosen program pascasarjana Universitas Kanjuruhan Malang, Universitas Ibrahimy Situbondo dan IAI Al Qolam Malang.

follow me
Mari berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *